Ali Imran 102

“Berserah Diri”. Apa itu?

Q: ‘BERSERAH diri’ itu apa sih sebenarnya, mas?

A: Iya. Wajar kalau belum paham. Bagi saya dulu, itu termasuk yang paling susah dipahami. Sangat abstrak.

Jadi ingat dulu waktu kuliah saya begitu memikirkan apa arti ‘berserah diri’ –yang jadi nama agama kita– itu, sampai akhirnya saya khusus menemui seorang sufi di sebuah kota, hanya untuk berusaha memahami arti kata itu.

Beliau itu menyambut saya dengan sangat baik, menjamu saya, sampai akhirnya bertanya, apa yang bisa beliau bantu buat saya. Saya sampaikan bahwa tujuan saya ke situ hanya membawa satu pertanyaan. Yaitu, untuk minta diterangkan, apa sebenarnya ‘berserah diri’ itu.

Beliau tersenyum lebar, senyuman hangat sekali. Tau apa jawabannya?

Beliau menjawab, “seandainya saja berserah diri bisa diterangkan dengan kata-kata, sudah sejak dulu saya menerangkannya.”

Sampai akhirnya saya khusus menemui seorang sufi di sebuah kota, hanya untuk berusaha memahami arti kata itu.

Nah. Berserah diri bukan kata-kata. Bukan definisi. Itu sebuah sikap dasar. Sebuah ‘laku’. Yang dilakukan sepanjang usia, sepanjang tarikan nafas. Sampai mati.

Berserah diri itu sebuah sikap dasar seorang muslim. Jelas, sebab itu yang jadi nama agamanya. Islam, keberserahdirian. Dari asal kata ‘aslama’, berserah diri. Pelakunya, disebut ‘muslim’. Arti ‘muslim’ adalah ‘orang yang berserah diri’, bukan sekedar ‘orang yang (KTP-nya) Islam’.

Ingat bahwa agama kita tidak dinamakan dengan nama pendirinya, misalnya. Muhammadanisme, atau Muhammadian, seperti ‘Christian’. Atau atas nama bangsa atau etnik tertentu, seperti ‘Judaism’ atau Yahudi. Agama kita mengedepankan sikap dasarnya. Bukan labelnya. Jadi sikap dasar itu yang seharusnya menjadi nafas para penganutnya.

Nah, yang penting adalah sikap dasarnya itu. Bukan labelnya. Bisa saja di akte kita beragama Islam, tapi sikap kita masih jauh dari keberserahdirian. Harusnya agak takut sih, kalau kita sama sekali tidak berserah diri, atau malah nggak pernah bingung dengan arti kata ‘berserah diri’, lalu mati. Masihkah kita wafat sebagai seorang muslim? Ingat bahwa arti muslim adalah ‘orang yang berserah diri’.

Nah, sekarang, gimana berserah diri itu. Salah kaprah yang sangat umum terjadi, biasanya di titik ini.

‘Berserah diri’ sering dianggap sebagai laku pasrah (pasrah bulat-bulat, pasrah bongko’an), laku mengalir saja, dan sebagainya. Atau diterjemahkan jadi tidak berbuat, mengikuti nasib saja, ke mana waktu membawa.

Sebenarnya bukan begitu. Berserah diri dalam konteks keberserahdirian seorang muslim, adalah berserah diri kepada kehendak Allah. Sekali lagi, berserah diri kepada kehendak Allah. Implikasinya, kita harus tau dulu, apa kehendak Allah itu. Setidaknya, secara umum. Sampai akhirnya nanti kita mampu (atau Dia mampukan) untuk mengetahui kehendak-Nya yang spesifik untuk kita.

Nah, sekarang, seperti apa berserah diri pada kehendak Allah? Saya ambil contoh ya. Yang paling mudah saja.

Hadis mengatakan dengan sangat jelas, bahwa amal yang paling Allah cintai (bahkan lebih Allah cintai daripada jihad fi sabilillah dan berbakti pada orang tua), adalah shalat di awal waktu. Shalat, di-awal-waktu.

Nah, dari sini, setidaknya kita paham, bahwa yang paling Allah kehendaki, untuk awalnya adalah shalat di awal waktu.

Lalu, gimana berserah dirinya? Nah, karena berserah dirinya adalah pada kehendak Allah, maka kita berjuang dulu untuk shalat di awal waktu, lalu berserah diri kepada Allah dalam berjuang melakukannya. Artinya, kita abaikan dulu rasa malas kita, rasa enggan kita, hape kita, chat WA kita, cucian kita, or whatever, demi untuk berserah diri melaksanakan apa yang Dia kehendaki.

Nah, kalau kita masih mengakhirkan karena malas, itu belum berserah diri pada Allah. Tapi berserah diri pada kemalasan. Tanggung kerjaan? Berserah diri pada kerjaan.

Dalam kehidupan sama juga. Kalau semata-mata cuma mengalir saja, sangat mungkin itu sekedar berserah diri pada nasib. Atau berserah diri pada keadaan. Belum tentu pada Allah.

Sangat mungkin itu sekedar berserah diri pada nasib. Atau berserah diri pada keadaan. Tapi belum tentu pada Allah.

Syarat sebuah keberserahdirian pada Allah adalah, ada harapan, ada doa, ada sebuah itikad, atau sebuah akad dengan-Nya bahwa kita ingin dituntun Allah, sebelum melakukan upaya tertentu, atau sebelum memutuskan keputusan tertentu. Baru setelah itu, kita berserah diri. Jadi kalau sekedar mengalir saja, pasrah saja, tanpa dikaitkan dengan sebuah akad atau sebuah harapan pada Allah untuk Dia tuntun ke yang lebih baik dari ini, maka itu bukan sebuah keberserahdirian.

Jadi sebenarnya akhlaq seorang muslim yang berserah diri adalah, ia ingin diatur Allah, ia ingin ditata Allah, ingin agar Allah berkenan menuntun, mengatur dan menata hidupnya. Ia ingin ditata lahir batin, sampai aspek yang sekecil-kecilnya. Itu harapannya. Itu esensinya berserah diri kepada Allah.

Jadi, kalau kita masih belum ingin Allah atur, belum merasa butuh dengan penataan Allah di kehidupan kita, artinya memang kita belum ingin menjadi hamba yang berserah diri kepada Allah. Silakan dicermati masing-masing saja. Silakan mencoba jujur pada diri sendiri. Saya pun sedang berharap agar dijadikan-Nya hamba yang berserah diri.

Apa ciri-ciri adanya keberserahdirian? Yaitu, adanya sikap tawakkal, percaya dan yakin pada penataan dan pengaturan Allah atas diri kita. Tawakkal adalah mempercayakan diri kita pada Al-Wakil. Bukan pasrah kosong. Ada sebuah akad, sebuah ‘kesalingpengertian’, sebuah ‘Memorandum of Understanding’, bahwa kita mempercayakan diri kita kepada Sang Al-Wakil, dan Dia menerima kepercayaan itu.

Nah, sekarang, apa cirinya bahwa kita punya ketawakkalan yang baik kepada Allah? Cirinya adalah, tidak ada keluhan. Kita tidak mengeluh. Mulut kita sepi dari keluhan, dan batin kita pun kosong dari keluhan. Kalau kita masih mengeluh, walaupun tidak sampai terucap, itu artinya kita belum menjadi hamba yang tawakkal.

Dari sini jelas, bahwa sikap berserah diri kepada Allah itu sikap yang sangat jauh dari sikap pasif. Berserah diri pada kehendak Allah menuntut adanya sebuah pengetahuan atau penertian dulu, apa yang sebenarnya Allah kehendaki untuk kita. Itu pontang-panting dulu. Jauh dari diam, pasrah, dan pasif, duduk menikmati angin.

Jika kita belum Allah tunjuki untuk melaksanakan kehendak yang khusus untuk kita, maka laksanakan yang umum dulu. Koridor kehendak Allah yang paling umum adalah syari’at. Ini saja belum tentu siap (hukum waris, anyone?). Laksanakan yang wajib dulu, baru kemudian upayakan yang sunnah.

Jika syari’at sudah baik, artinya kita sudah melaksanakan petunjuk umum dengan baik, maka insya Allah Dia akan menuntun kita kepada kehendak-kehendak-Nya yang lebih khusus untuk kita. Petunjuk-petunjuk yang spesifik untuk kita. Jadi, dari sini saja, kita sudah bisa melihat bahwa mustahil kita mengabaikan atau meninggalkan syari’at, sebab artinya itu lari dari keberserahdirian kepada apa yang Allah kehendaki.

Jadi nulis panjang ini mau ngomong apa sebenarnya?

Mau bilang, bahwa ‘berserah diri’ itu jauh sekali dari sikap pasif dan pasrah bulat-bulat, jika berserah dirinya kepada Allah. Itu berserah diri pada kemalasan, pada keadaan, atau pada nasib.

Berserah diri akan melahirkan kerinduan untuk diatur Allah, untuk ditata Allah, untuk ‘dirapikan’ Allah, untuk senantiasa diberi petunjuk oleh Allah.

Dari sini akan melahirkan sebuah sikap tawakkal, dan ketika sudah Allah hiasi dengan tawakkal, mulut dan batin kita akan sunyi dari keluhan.

Nah, sekarang lebih jelas lagi dengan Q. S. Ali Imran : 102, “Wala tamutunna illa wa antum muslimun”. Jadi maknanya bukan sekedar “janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan beragama Islam”. Lha, kalau KTP Islam, tapi tidak pernah berserah diri, gimana?

Jadi, ayat itu lebih dalam lagi: janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan sebagai orang yang berserah diri kepada Allah. Bukan berserah diri pada nasib, bukan berserah diri pada keadaan.

Itu maksudnya.

Semoga bermanfaat ya.

(Herry Mardian)

#BerserahDiri #Quran #muslim #islam #CatatanHM

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

%d bloggers like this: