Tukang Sepatu

Diterimanya Haji Sang Tukang Sepatu

IBADAH haji adalah ibadah yang sangat kompleks dan berat. Hampir tak mungkin ada seorang pun yang bisa melakukannya dengan sempurna. Tak ada seorang pun yang berani mengandalkan kesempurnaan ibadah hajinya, sehingga pada akhirnya para jamaah haji akan memohon kepada Allah agar berkenan menerima pengabdian mereka yang jauh dari sempurna itu.

Suatu ketika, seorang Syaikh sufi terkemuka jatuh tertidur di Masjidil Haram seusai menyelesaikan ibadah hajinya. Dalam tidurnya, ia mendengar dua orang malaikat yang sedang berdiri di dekatnya, saling berbicara satu sama lain.

“Alangkah sayangnya, bahwa haji tahun ini, tak ada satu pun jamaah yang pengabdian ibadah hajinya Allah terima,” kata malaikat yang pertama.

Malaikat yang kedua mengangguk. “Namun, Alhamdulillah,” kata malaikat kedua. “Hanya karena ada dua orang jamaah yang ibadah hajinya begitu sempurna. Kesempurnaanya ini begitu besar berkahnya, sehingga Allah berkenan menerima haji seluruh jamaah tahun ini. Begitu sempurnanya haji dua orang ini, sehingga berkahnya cukup seandainya dibagi-bagikan untuk seluruh jamaah haji.”

Malaikat pertama mengangguk. “Alhamdulillah. Siapa kedua orang itu?”

“Seorang bernama Abdullah bin Ibrahim, dan istrinya,” kata malaikat kedua. “Ia seorang tukang sepatu sederhana dari Baghdad.”

Syaikh terbangun. Ia terperanjat dengan pendengarannya sendiri. Ia segera bangkit, mengumpulkan seluruh perbekalannya, dan —bukannya pulang ke negerinya— ia langsung berangkat ke Baghdad. Ia bertekad akan mencari seorang tukang sepatu bernama Abdullah bin Ibrahim untuk menanyakan satu hal: apa rahasianya, sehingga Allah berkenan menerima ibadah hajinya.

“Begitu sempurnanya haji dua orang ini, sehingga berkahnya cukup seandainya dibagi-bagikan untuk seluruh jamaah haji.”

BEBERAPA bulan sebelumnya, di Baghdad, seorang remaja mengunjungi rumah kawannya, salah seorang tetangganya. Di rumah tetangganya ini, keluarga kawannya sedang memasak sop daging yang harumnya memenuhi seluruh rumah—rumah kecil, karena ini lingkungan kalangan miskin.

Meski keluarga kawannya ini menyambut dengan baik, namun mereka sama sekali tidak menawarinya makan. Ini adalah hal yang sangat “unacceptable” dalam budaya muslim, bahwa ada seorang tamu yang datang ketika tuan rumah sedang makan, namun sang tamu tidak diajak makan bersama.

Bahkan ketika sang remaja terlihat sangat ingin makan, tuan rumah —ayah temannya itu— mohon maaf karena tidak bisa menawarinya makan. Sebab, katanya, “makanan ini halal buat kami, namun haram buatmu.”

Sepulangnya ke rumah, remaja ini bercerita kepada ayahnya mengenai peristiwa di rumah temannya itu. Ayahnya, salah seorang yang dituakan oleh masyarakat di sana, yang juga seorang tukang sepatu bernama Abdullah bin Ibrahim, akhirnya memutuskan untuk mengunjungi tetangganya itu. Ia merasa ada yang tidak beres, karena sangat ganjil bagi masyarakat muslim di sana, bahwa ada seorang tamu yang tidak diajak makan. Bahkan mengatakan bahwa makanan mereka ‘haram buat sang tamu, namun halal bagi penghuni rumah’. Makanan apa itu?

Maka, Abdullah, sang tukang sepatu, pun mengunjungi sahabatnya, yang juga tetangganya itu.

“makanan ini halal buat kami, namun haram buatmu.”

ABDULLAH bin Ibrahim pun mengunjungi tetangganya itu, mengajaknya bicara. Ia menduga ada sesuatu dengan keluarga tetangganya itu, siapa tahu perlu pertolongan atau mungkin sekedar nasihat. Ia pun menceritakan apa yang disampaikan anaknya, tentang kejadian kemarin di rumahnya ini.

“Aku mohon maaf sekali dengan kejadian kemarin,” kata tetangganya pada Abdullah. “Bahwa kami tidak bisa memberikan apa yang kami makan pada putramu.”

“Tidak apa-apa,” kata Abdullah. “Bukan itu persoalannya. Namun aku khawatir kepadamu, bahwa kata anakku kalian memakan makanan haram.”

“Benar,” kata tetangganya. “Itu haram buat kalian, tapi halal buat kami.”

“Kau muslim, dan kami pun muslim. Apa ada jenis makanan yang haram buat kami namun halal buatmu?” tanya Abdullah bin Ibrahim.

Tetangganya itu pun menghela nafas. “Begini,” jawabnya. “Kau adalah sahabatku, dan tetanggaku. Aku tidak pernah menceritakan hal ini kepada seorang pun sebelumnya, kecuali kepadamu. Namun tolong rahasiakan apa yang akan aku sampaikan ini,” pintanya pada Abullah.

Abdullah mengangguk.

Sang tetangga melanjutkan. “Kau mungkin tidak tahu, namun belakangan ini usahaku bangkrut. Modalku habis untuk merawat ibuku yang sakit keras. Aku tidak sanggup lagi membayar sewa, dan daganganku pun tak lagi banyak dikunjungi pembeli karena sering tutup.”

Ibrahim menyimak baik-baik.

“Sudah dua bulan terakhir kami hanya makan seadanya, itu pun sekali sehari. Nah, tiga hari terakhir, kami tidak punya apapun untuk dimakan, kecuali air. Lalu, aku berjalan kesana kemari karena bingung, dan di balik bukit sana aku menemukan bangkai seekor kambing yang belum lama mati,” katanya menunjuk ke sebuah arah. “Lalu, ketika tak seorang pun melihat, aku potong paha bangkai kambing tersebut, dan kubawa pulang untuk kami makan. Nah, ketika itulah putramu datang berkunjung,” kata tetangganya ini. “Itulah sebabnya, apa yang kami makan menjadi haram buat putramu, namun kuanggap halal buat kami.”

Ibrahim bin Abdullah trenyuh mendengar kisah tetangganya ini. Ia meminta maaf atas keluhan putranya, dan berterima kasih karena tetangganya bersedia menjelaskan masalahnya. Ia pun permisi pulang.

Sesampainya di rumah, Abdullah bercerita kepada istrinya, tentang apa yang baru didengarnya dari tetangganya itu. Istrinya trenyuh mendengarnya. Mereka berdua lalu berdiskusi, apa yang bisa mereka lakukan untuk menolong tetangganya.

Akhirnya, mereka berdua bersepakat untuk memberikan tabungan haji mereka —tadinya mereka akan berangkat haji tahun ini— yang sudah dua puluh tahun disisihkan Abdullah dari hasil memperbaiki atau menjual sepatu, untuk diberikan kepada tetangganya itu sebagai modal usaha untuk memulai lagi usahanya.

“Tak apalah kita tidak berangkat haji, Ayah,” kata istrinya. “Bahkan walaupun mungkin kita tak akan pernah bisa berhaji lagi. Menurutku, kita lebih wajib menolong tetangga kita itu, agar mereka bisa memulai lagi hidupnya. Semoga dengan itu Allah berkenan menolong kita kelak.”

Abdullah sepakat. Dan ia pun menyerahkan seluruh tabungan hajinya untuk tetangganya itu, agar ia bisa memulai lagi usahanya.

: :

SANG Syaikh sufi pun akhirnya berhasil tiba di Baghdad, Setelah menelusuri selama lima minggu, ia berhasil menemukan sosok yang dicarinya: seorang tukang sepatu sederhana dari Baghdad, bernama Abdullah bin Ibrahim.

Sang Syaikh mengunjungi Abdullah bin Ibrahim di kediamannya, lalu menceritakan apa yang didengarnya dari malaikat, bahwa karena ibadah hajinya yang begitu sempurna —dan merekalah satu-satunya jamaah yang Allah terima hajinya tahun itu— sehingga Allah berkenan atas ibadah haji seluruh jamaah tahun itu.

“Jadi,” kata Sang Syaikh, “maukah kau memberitahuku apa rahasianya? Apa yang kau lakukan selama haji kemarin di Mekkah, dan bagaimana kau melakukannya, sehingga Allah melihat ibadah hajimu begitu sempurna?”

Abdullah bin Ibrahim terperanjat mendengar kisah Syaikh. “Tapi Syaikh, bagaimana mungkin?” kata Abdullah. “Aku bahkan tidak jadi berangkat haji sama sekali.”

[ ]

: :

(*) KISAH ini saya sampaikan di shooting acara “Cahaya Iman” R-Channel (20-21 Juni 2020), episode ‘Kepemurahan’.

(**) Dikisahkan kembali oleh Herry Mardian, terinspirasi dari kisah di buku Cinta Bagai Anggur – Syaikh Muzaffer Ozak

#CatatanHM #sepatu #KisahSufi #TukangSepatu

: :

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

%d bloggers like this: