Hadits Lengkap Pelarangan Poligami Sahabat Ali ra.

BANYAK yang mengira bahwa Rasulullah melarang menantunya, Ali ra yang ketika itu masih beristri putri Rasulullah, Fathimah ra, adalah semata-mata karena alasan kecemburuan atau khawatir putri tercintanya tersakiti.

Kalau kita lihat haditsnya secara lengkap, adalah seperti berikut ini.

“Diriwayatkan dari Miswar bin Makhramah ra : ‘Ali bin Abi Thalib ra. melamar anak perempuan Abu Jahal, sedangkan waktu itu dia adalah suami Fathimah, putri Nabi saw. Sewaktu mendengar lamaran Ali, Fathimah pergi menemui Nabi saw seraya berkata:

‘Sesungguhnya kaummu berbicara bahwa engkau tidak pernah marah karena putri-putrimu. Aku memberitahukan bahwa Ali hendak menikah dengan putri Abu Jahal.’

Berkata Miswar: Kemudian Nabi saw. berdiri. Aku mendengarnya membaca tasyahud, lalu berkata:

Amma ba’du. Sesungguhnya aku menikahkan Abu’l Ash bin Rabi’. Dia berbicara kepadaku dan dia membenarkanku. Dan sesungguhnya, Fathimah binti Muhammad adalah segumpal dagingku. Dan aku benar-benar tidak suka kalau mereka memfitnahnya. Demi Allah, sesungguhnya tidak boleh berkumpul putri Rasulullah dengan putri musuh Allah pada seorang suami selama-lamanya.”

Kemudian Ali ra menggagalkan lamarannya.”

(Shahih Muslim 7 : 142)


Banyak yang menampilkah hadits ini hanya sepotong saja, entah tanpa sengaja atau karena belum tahu, sehingga seakan-akan masalahnya hanyalah sekedar Rasulullah melarang Fathimah dimadu. Padahal jika kita lihat haditsnya secara lengkap, masalah sebenarnya sepertinya jauh lebih dalam dari itu.

Dari hadits ini, jika ditampilkan secara lengkap, sepertinya bisa dilihat bahwa Rasulullah melarang Ali menikah lagi ketika masih beristri Fathimah ra adalah karena Ali hendak melamar putri Abu Jahal, bukan karena semata-mata kecemburuan dan tidak ingin Fathimah, putri beliau, ‘terluka’.

Di riwayat lain, juga diriwayatkan hadits yang senada, walaupun nama imam haditsnya tidak tercantum.

“Sesungguhnya Fathimah adalah darah dagingku dan aku mengkhawatirkan dia akan terganggu agamanya.” Kemudian Beliau menyebutkan salah seorang menantunya dari bani ‘Abdi Syams (yaitu Utsman bin Affan r.a.), dengan memuji perkawinannya dengan anaknya yang dinilainya baik. Lalu Beliau SAW bersabda : “Menantuku kalau berbicara denganku jujur, kalau berjanji denganku, memenuhinya. Sesungguhnya aku tidaklah mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram, akan tetapi, demi Allah, putri Rasulullah tidaklah boleh sama sekali dikumpulkan di satu tempat dengan putri dari musuh Allah selama-lamanya.“(Al-Hadits).

Jadi saya kira pelarangan poligami Rasulullah terhadap Ali ra. ketika masih beristri Fathimah ra. bukanlah sekedar masalah kecemburuan atau sakit hati, melainkan dengan siapa Fathimah ra. hendak dikumpulkan pada seorang suami. Agaknya belum tepat jika potongan hadits ini dijadikan landasan argumen generalisasi bahwa ‘Rasulullah pada dasarnya melarang poligami’.

Apa hikmah poligami? Kenapa Islam tidak menganjurkannya, tapi juga tidak melarangnya?

Saya juga belum tahu. Tapi saya pribadi tidak ingin memandang poligami adalah sebuah hal yang ‘nista’. Sejauh yang bisa saya jadikan landasan sikap saya pribadi, adalah bahwa saya belum mengerti hakikat masalah ini. Tapi tidak akan bersikap di dalam hati seakan-akan ada yang salah di Al-Qur’an dan dalam sikap hidup Rasulullah. Itu artinya jauh di dalam hati saya masih tersimpan keyakinan bahwa ada yang tidak relevan lagi di Al-Qur’an sehingga ada bagian di kitab tersebut yang boleh diedit ulang. Itu mustahil. Al-Qur’an, sebagai kitab suci dari ‘tangan’ Allah ta’ala sendiri, tidak mungkin terbatas relevansi implikasinya dalam bingkai waktu.

Jika melihat sejarah, toh ada para rasul yang berpoligami, dan ada pula yang tidak. Demikian pula para sahabatnya. Demikian pula, Al-Qur’an dan syariat Islam pun tidak dalam posisi mengajurkan atau meng-encourage poligami. Posisinya netral, mubah-mubah saja. Dan di atas semuanya, tentu tidak perlu saya sebutkan lagi bahwa setiap pelaku poligami (dan bahkan monogami pun), semua akan dimintai pertanggungan jawabnya di hadapan Allah ta’ala: atas dasar apa ia mengambil sikap demikian.

Intinya, saya pribadi tidak ingin ‘mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram’, demikian dalam bahasa Rasulullah. Sikap demikian mengundang azab-Nya. Tapi saya juga tidak mencibir kepada Rasulullah maupun para sahabat yang berpoligami. Saya hanya belum mengerti, saya rasa alasan itu cukup di mata Allah sehingga (semoga) dalam rahmat-Nya Dia tidak akan menghakimi saya karena ketidakmengertian saya. Saya tidak ingin menjadi dihakimi-Nya karena jatuh kepada menghakimi orang lain dengan ketidakpahaman, apalagi mengedepankan sebuah kebencian dengan alasan-alasan emosional semata.

Ya Rabb, berilah hamba pemahaman… izinkan hamba menyentuh hakikat segala sesuatu. Engkaulah Rabb, Sang Penjaga, dan Engkaulah Al-‘Ilm Sang Raja pemilik ilmu. Aku hanyalah hamba, yang akan senantiasa butuh untuk meminta pada-Mu. Amiin.

39 comments On Hadits Lengkap Pelarangan Poligami Sahabat Ali ra.

  • A’kum,

    As for the question above, why polygamy is allowed in Islam. If we were to go through previous history, n kalau dilihat pada masa sekarang pun, there are a few men who can’t seem to stay married with one woman, no matter whether they are muslim or non-muslim. Thus, allowing polygamy is just for the sake of their children (with the other woman), so all children to be born with a father. For the non-muslim, although they are not allowed to marry more than one, how many actually have mistress? Even for misyar, there is a good reason behind it. Syurga kepada seorang wanita yang sudah berkahwin bergantung kepada samada suami merestuinya atau tidak. Misyar actually give a chance for the woman to concentrate on their career, without having to juggle career n married life, but I think it will only work if there is no child in the picture. Once you has a child, then the responsibility as a parent comes in. Thus, misyar no longer works.

    This gonna create controversy, right? I hope not, n of course I wouldn’t want my hubby to get married to another lady.

    The purpose of polygamy is to ensure all mankind will be able to trace their ancestors. Agar dapat melihat jalur keturunan dengan terang dan jelas. At the same time to avoid children being born as fatherless. Just imagine the emotional trauma they’ll be facing (to be born without having a father) through out their childhood, just because of their parent’s sin. Al-Quran will always remain relevant till the end of time. May Allah bless us all.

    Salam.

  • tapi, bang herry…, hadits lengkap ini tiba-tiba membawaku ke pertanyaan baru: kalau alasannya putri Rasul dilarang berkumpul dengan putri Abu Jahal, kenapa putri Abu Jahal kesannya dapat dosa warisan? Apa salah dia? Ditakutkan mewarisi kekufuran ayahnya? Bukannya itu logika pemerintah Orba dalam menghabisi PKI tujuh turunan? Aiaiai, moga2 pertanyaannya tepat.

  • hidup Dewi Yull…..aku nyonto Dewi Yull aja dehhhh…:wink:

  • Kalau boleh saya berpendapat.saya kira Muhammad SAW dalam
    hal ini tidak melarang Ali ra untuk berpoligami tetapi hanya men-
    yampaikan keberatan anaknya atas keinginan menantunya untuk
    berpoligami,dan Ali ra sebagai menantu yang menghormati mertua tentunya akan mendengarkan nasehat tersebut.Wallahualam bissawab.

  • sebuah analisa yang cukup bersih pak
    terima kasih sudah kasih liat hadist ini yang lebih lengkap
    wassalam

  • Oke nabi poligami, tapi sahabat yang mana yang berpoligami?, maaf saya belulm tahu, kayaknya tidak ada sahabat nabi yang berpoligami. Yang perlu dipermasalahkan bukannya hukumnya (boleh berpoligami) tapi syaratnya jujur. Apakah kita sanggup berbuat seperti rosul. Ingat kita manusia bukan rosul. Kalalu dipikir pakai kepala atas memang tidak akan terjadi poligami tapi kalau dipikir pakai kepala bawah yang bisa terjadi poligami

  • bukankah salah satu istri rasulullah adalah tadinya nasrani/yahudi, cmiiw. buat beliau bolehkah ?

  • BINGO!! Makasih untuk bahasannya… 😀

    @anonom : Umar berpoligami, begitu juga Abu Bakar.

    @passya : Salah satu istri beluiau tadinya adalah seorang anak Kepala Suku Yahudi yang tertawan, saat itu diberikan pilihan, masuk Islam dan dijadikan Istri Rasulullah, atau tetap menjadi Yahudi dan dijadikan tawanan perang. Istrinya tersebut memilih masuk Islam…:) Jadi, beliau tidak pernah menikahi salah seorang dari ahlul kitab…:) Dan selanjutnya, pernikahannya tersebut membuat malu kepala suku yahudi tersebut…:mrgreen:

  • mas mardian, thanks buar artikelnya, saya jadi banyak tau tentang keislaman. oh yah, boleh ga’ add mas Herry jadi teman di Friendster, kalo boleh kasih alamat emailnya dong !

    Cheers,
    Ruby

  • alamat mailnya ruby apa?

  • Poligami dan Monogami

    Keduaduanya adalah hal yang diajarkan dalam islam. Poligami memang di lakukan (dicontohkan oleh Rosululoh) dan Monogami dilakukan oleh ‘beberapa’ sahabat Rosul, misal Sayidina Ali.

    Memang kadang ‘menarik’ bila ada yg mempermasalahkan dgn berkomentar ” Kamu ngikutin Rosul apa Ali sih ? ” ……( yg ujung2x orang itupun kebelet “nyandung”. – intermezzo-)
    Saya kira komentar demikian bisa dimaklumi lah.

    Saya tidak menentang ajaran Poligami ( duh… mana brani .. bisa -bisa disebut sok tau akan Poligami ) dan saya akan kampanyekan bahwa monogami juga ada contohnya , yakni dari sahabat nabi yang bermusid pada Rosululloh. .

    Ajaran / contoh Poligami dan monogami bukan polaritas tapi singularitas melihatnya .

    Thx
    rudal91

  • Koreksi: Sahabat Ali ra pun berpoligami, sepeninggal Fathimah ra. Demikian pula Usman r.a.

    Nabi Ibrahim as., Daud as,. Sulaiman as., siapa lagi ya?

    Poligami bukan ‘diajarkan’ dalam Islam, dalam pengertian ‘didorong untuk dilakukan’. Ini kurang tepat: Islam tidak meng-encourage poligami.

    Hanya, Islam tidak memandang poligami sebagai hal yang nista dan salah. Baik poligami maupun monogami, juga menjadi istri pertama atau istri kedua, sama sekali tidak dipandang sebagai halangan yang mengurangi kesolehan dan kesucian seseorang, baik pria maupun wanita, ataupun menurunkan kedudukannya di mata Allah ta’ala. Banyak orang-orang suci di mata-Nya yang poligami maupun monogami. Demikian pula, banyak wanita suci di mata-Nya yang berkedudukan sebagai istri ke sekian dari seorang pria, ataupun sebagai istri tunggal.

  • @Adrian Syah:

    Pertanyaan bagus 🙂 kesannya putri Abu Jahal dapet ‘dosa warisan’ ayahnya ya?

    Sebenarnya, kalau baca sejarah, kemudian terungkap bahwa pihak keluarga Abu Jahal lah (Keluarga besar Ibnu Hisyam, kalau tidak salah) yang ‘mengatur’ pelamaran putrinya untuk Ali ra. Peristiwa ini lebih merupakan trik politik keluarga Abu Jahal.

    Rasulullah, sebagai seorang suci, mengetahui trik ini. Maka Beliau melarang Ali untuk melamar putri Abu Jahal tsb. Jadi bukan karena ‘anak Abu Jahal’, maka putrinya mewarisi dosa ayahnya, bukan begitu.

    Islam tidak mengenal dosa warisan. Hanya, potensi dosa orangtua, yaitu hawa nafsu dan syahwat, bisa terwariskan.

    Tentu beda kualitas jiwa sang anak, jika orangtua ‘membuatnya’ dalam keadaan penuh dosa dan belum bertaubat, diberi makan dari penghasilan yang haram dan sebagainya, jika dibandingkan dengan anak yang ‘dibuat’ orangtuanya dalam keadaan orangtua yang telah suci, telah taubat, dan memberi makan istri dan anaknya hanya dari harta yang halal. Potensi hawa nafsu dan syahwat yang tercipta dalam diri sang anak akan jauh berbeda, meskipun peristiwa ‘pembuatan’ anaknya tentu melibatkan hawa nafsu dan syahwat 😀

    Ada hawa nafsu dan syahwat yang sudah terahmati, ada yang belum.

    Sebenarnya pertanyaan yang tepat bukanlah ‘adakah dosa warisan orang tua kepada anak’, tapi ‘pada kondisi spiritual seperti apakah sang anak ‘dibuat’, dan seberapa halal makanan yang diberikan kepadanya.

  • Asalamualaikum,
    K Herry, bagus sekali artikelnya 🙂 Tentang Poli maupun monogami, semua sudah dicontohkan Rasulullah SAW. Ketika beristri Khadijah ra. beliau bermonogami, setelah itu beliau berpoligami, artinya baik poligami maupun monogami memang dicontohkan 🙂

    Soal hukum poligami, menurut saya mending kembalikan saja ke hukum asal NIKAH: WAJIB, MUBAH, dan HARAM. Wajib jika sudah mampu (batiniah maupun lahiriah, ada landasannya semisal petunjuk) dan ingin :D. Mubah sebagai hukum asal pernikahan. Haram jika landasan pernikahan tidak sesuai syariat, misal karena ingin menyakiti istri. [Maaf kalau kurang tepat, keterangan ini saya kutip dari buku pelajaran Agama Islam SMU :D]

    Demikian pula poligami, kalau memang sudah mampu dan ingin, kenapa tidak? Kalau hanya sekadar ingin menyalurkan syahwat terpendam, syukuri dulu istri yang satu, karena biasanya kalau sudah urusan syahwat dikedepankan, petunjuk Allah dikesampingkan.

  • head above…
    head below…

    ….sometimes man confuse which to follow 😉

    (imho, just follow the one in the middle)

  • tulisan Anda sangat bijaksana. Sementara menurut saya, poligami memang layaknya mimpi buruk bagi perempuan namun jika dikaji dan diselami lebih luas, justeru adalah madu yang dianugerahkan Allah Ta’ala atas perempuan. Penuh manisan dan mensucikan. 🙂

  • makasih 🙂

    wait.. are you really fatima from musik debu?

  • that’s right. What do you thinking about?

  • naah, it’s just… i like debu musics a lot 🙂 thanks fatimah..

  • artikel ini bagus mas herry. dan comment yang paling menggelitik adalah comment yang hubnugannya dengan dosa warisan.

    tapi mas herry udah menjawab dengan baik pula; tampaknya inilah keterbatasan manusia yah mas… kadang kita suka lupa dan terlalu mengikuti logika pikiran tapi malah membuat diri kita selalu dalam kebingungan. Namun tulisan selanjutnya “Waham ‘Kesolehan’, Waham ‘Kekasih Allah’, Waham ‘Pembimbing Spiritual’” mungkin sudah agak lebih menjelaskan buat kami, siapa mereka (para suci) yang menjadi poin penting tulisan mas Herry.

  • Tulisan yang bagus mas, saya baru tau ttg hal ini 😉

    menyambung ttg dosa warisan atau keturunan, kasihan juga ya orang2 yang dilahirkan dari keluarga kafir atau jahat atau bejat dll. Potensi untuk jadi baiknya sedikit, beda dengan anak dari orang bener, potensi baiknya jadi besar :mrgreen: tentu ada beberapa pengecualian seperti anak nabi Nuh yang kafir.

    Tapi mungkin yang lebih penting adalah seberapa besar usaha, bukan sampai dimana seseorang, karena kalau gitu jadi gak adil donk Tuhan karena tiap2 orang start dari tempat yang berbeda, gitu? :?::?:

  • abdurrachman huda

    Hadis ini perlu dikritisi.
    – Rosul Muhammad saw polygami karena apa
    – saya ragu kwalitas Ali ra kok diriwayatkan cuma segitu

  • Aji Jatmika A

    Kalau belum banyak belajar ayat-ayat Al-Quran dan tafsirnya, hadits-hadits Nabi dan penjelasannya, kia kok banyak komentar tentang syariat Allah ini ya? 😕

  • Poligami atas nama agama, membunuh juga atas nama agama. Terorisme atas nama agama. Kenapa menjadi begini?

    Waktu jaman Majapahit, orang Jawa (Gajah Mada, dll) membuat nusantara
    makmur dan jaya. Orang jawa berkebudayaan tinggi, kreatif dan toleran.
    Setelah Islam masuk di Jawa, negara kita hancur korban dari penajahan
    Belanda, Jepang, dsb. Korban dari korupsi, kekerasan/teror, malapetaka. Dan korban dari imperialisme Arab (Indonesia menjadi pemasok turis calon haji yang terbesar di dunia). Orang-orang Arab ini memang hebat telah berhasil menemukan cara untuk memasukkan devisa.

    Bagaimana caranya supaya orang Jawa kembali bisa memakmurkan negara kita yang tercinta ini?

  • Zorion Annas

    Islam tidak cocok untuk wanita karena Islam menurunkan derajat wanita.

  • @Saleh Aziz Menurut Rasulullah Muhammad SAW, Agama itu akhlaq yg baik, jika buah akhlaq perbuatan tidak baik, maka akan gugur sendiri, jika mengatas namakanpun perlu persetujuan yang punya misalnya surat kuasa, jika tidak disetujui ya… bayar sendiri…masalah pelakunya, he..he…no comment:lol:
    orang beragama untuk kebutuhan diri sendiri, jika berhasil dalam agama yang untung diri sendiri, bermajelispun untuk menambah pengetahuan diri sendiri.
    Masalah cocok engga cocok, engga usah dirisaukan, seperti pakaian silahkan dicoba, diamati, dinikmati ngerasa enak beli, pakai tampilkan pada tempat dan waktunya, engga cocok…???…hmmmmm 😉

  • Zorion Annas

    PERLAKUAN KASAR DIBENARKAN OLEH AL-QUR’AN

    Kang Sufehmi, bacalah kutipan surah an-Nisa ayat 34: “…Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur dan pukullah mereka…”

    Ini jelas sekali bahwa, di lingkungan muslim, wanita adalah korban dari kekerasan fisik, penghinaan, pelecehan seksual. Semuanya itu dihalalkan oleh Al-Qur’an.

  • Info aja.

    Zorion Annas, a.k.a B. Ali, a.k.a sejati, a.k.a nurani, also known as Saleh Aziz. Orangnya hobi sekali ‘teriak-teriak’ kampanye negatif tentang Islam, lalu kopi-paste komentarnya di mana-mana. 🙂 Bukan cuma masalah poligami aja: Islam tidak manusiawi, tidak adil, dan sebagainya. A pure troll against Islam and Muslim as a whole, bahkan kepada semua agama samawi.

    hatinurani21 alias Zorion Annas, B. Ali, sejati, nurani, Ridwan Azari, Ramli Rais dan Saleh Aziz. Juga resist dan zulkifli bin taha (zbtaha).

    Google aja namanya. IP nya saya simpen, juga yang ini, kalo-kalo ada yang butuh.

  • Di Forum Religiositas Agama, saya menemukan artikel yang menarik sekali.

    MENGAPA KEBUDAYAAN JAWA MENGALAMI KEMUNDURAN YANG SIGNIFIKAN?

    Pengantar

    Manusia Jawa adalah mayoritas di Indonesia. Nasib bangsa Indonesia sangat tergantung kepada kemampuan penalaran, skill, dan manajemen manusia Jawa (MJ). Sayang sekali s/d saat ini, MJ mengalami krisis kebudayaan; hal ini disebabkan Kebudayaan Jawa (KJ) dibiarkan merana, tidak terawat, dan tidak dikembangkan oleh pihak2 yang berkompeten (TERUTAMA OLEH POLITISI). Bahkan KJ terkesan dibiarkan mati merana digerilya oleh kebudayaan asing (terutama dari timur tengah/Arab). Mochtar Lubis dalam bukunya: Manusia Indonesia Baru, juga mengkritisi watak2 negatip manusia Jawa seperti munafik, feodal, malas, tidak suka bertanggung jawab, suka gengsi dan prestis, dan tidak suka bisnis (lebih aman jadi pegawai).
    Kemunduran kebudayaan Jawa tidak lepas dari dosa regim Orde Baru. Strategi regim Soeharto untuk melepaskan diri dari tuannya (USA dkk.) dan tekanan kaum reformis melalui politisasi agama Islam menjadikan Indonesia mengarah ke ideologi Timur Tengah (Arab). Indonesia saat ini (2007) adalah kembali menjadi ajang pertempuran antara: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. (mohon dibaca artikel yang lain dulu, sebaiknya sesuai no. urut)

    Boleh diibaratkan bahwa manusia Jawa terusmenerus mengalami penjajahan, misalnya penjajahan oleh:
    – Bs. Belanda selama 300 tahunan
    – Bs. Jepang selama hampir 3 tahunan
    – Regim Soeharto/ORBA selama hampir 32 tahun (Londo Ireng).
    – Negara Adidaya/perusahaan multi nasioanal selama ORBA s/d saat ini.
    – Sekarang dan dimasa dekat, bila tidak hati2, diramalkan bahwa Indonesia akan menjadi negara boneka Timur Tengah/Arab Saudi (melalui kendaraan utama politisasi agama).

    Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah terpaan berbagai krisis yang tak pernah selesai dialami oleh bangsa Indonesia. Politisasi uang dan agama mengakibatkan percepatan krisis kebudayaan Jawa, seperti analisa dibawah ini.
    Gerilya Kebudayaan
    Negara2 TIMTENG/ARAB harus berjuang sekuat tenaga dengan cara apapun untuk mendapat devisa selain dari kekayaan minyak (petro dollar), hal ini mengingat tambang minyak di Timur Tengah (TIMTENG/Arab) adalah terbatas umurnya; diperkirakan oleh para ahli bahwa umur tambang minyak sekitar 15 tahun lagi, disamping itu, penemuan energi alternatip akan dapat membuat minyak turun harganya. Begitu negara Timur Tengah mendapat angin dari regim Orde Baru, Indonesia lalu bagaikan diterpa badai gurun Sahara yang panas! Pemanfaatan agama (politisasi agama) oleh negara asing (negara2 Arab) untuk mendominasi dan menipiskan kebudayaan setempat (Indonesia) mendapatkan angin bagus, ini berlangsung dengan begitu kuat dan begitu vulgarnya. Gerilya kebudayaan asing lewat politisasi agama begitu gencarnya, terutama lewat media televisi, majalah, buku dan radio. Gerilya kebudayaan melalui TV ini sungguh secara halus-nylamur-tak kentara, orang awam pasti sulit mencernanya! Berikut ini adalah gerilya kebudayaan yang sedang berlangsung:
    – Dalam sinetron, hal-hal yang berbau mistik, dukun, santet dan yang negatip sering dikonotasikan dengan manusia yang mengenakan pakaian adat Jawa seperti surjan, batik, blangkon kebaya dan keris; kemudian hal-hal yang berkenaan dengan kebaikan dan kesucian dihubungkan dengan pakaian keagamaan dari Timur Tengah/Arab. Kebudayaan yang Jawa dikalahkan oleh yang Timur Tengah.
    – Artis2 film dan sinetron digarap duluan mengingat mereka adalah banyak menjadi idola masyarakat muda (yang nalarnya kurang jalan). Para artis, yang blo’oon politik ini, bagaikan di masukan ke salon rias Timur Tengah/Arab, untuk kemudian ditampilkan di layar televisi, koran, dan majalah demi membentuk mind set (seting pikiran) yang berkiblat ke Arab.
    – Bahasa Jawa beserta ungkapannya yang sangat luas, luhur, dalam, dan fleksibel juga digerilya. Dimulai dengan salam pertemuan yang memakai assalam…dan wassalam…. Dulu kita bangga dengan ungkapan: Tut wuri handayani, menang tanpo ngasorake, gotong royong, dsb.; sekarang kita dibiasakan oleh para gerilyawan kebudayaan dengan istilah2 asing dari Arab, misalnya: amal maruh nahi mungkar, saleh dan soleha, dst. Untuk memperkuat gerilya, dikonotasikan bahwa bhs. Arab itu membuat manusia dekat dengan surga! Sungguh cerdik dan licik.
    – Kebaya, modolan dan surjan diganti dengan jilbab, celana congkrang, dan jenggot ala orang Arab. Nama2 Jawa dengan Ki dan Nyi (misal Ki Hajar …) mulai dihilangkan, nama ke Arab2an dipopulerkan. Dalam wayang kulit, juga dilakukan gerilya kebudayaan: senjata pamungkas raja Pandawa yaitu Puntadewa menjadi disebut Kalimat Syahadat (jimat Kalimo Sodo), padahal wayang kulit berasal dari agama Hindu (banyak dewa-dewinya yang tidak Islami), jadi bukan Islam; bukankah ini sangat memalukan? Gending2 Jawa yang indah, gending2 dolanan anak2 yang bagus semisal: jamuran, cublak2 suweng, soyang2, dst., sedikit demi sedikit digerilya dan digeser dengan musik qasidahan dari Arab. Dibeberapa tempat (Padang, Aceh, Jawa Barat) usaha menetapkan hukum syariah Islam terus digulirkan, dimulai dengan kewajiban berjilbab! Kemudian, mereka lebih dalam lagi mulai mengusik ke bhinekaan Indonesia, dengan berbagai larangan dan usikan bangunan2 ibadah dan sekolah non Islam.
    – Gerilya lewat pendidikan juga gencar, perguruan berbasis Taman Siswa yang nasionalis, pluralis dan menjujung tinggi kebudayaan Jawa secara lambat namun pasti juga digerilya, mereka ini digeser oleh madrasah2/pesantren2. Padahal Taman Siswa adalah asli produk perjuangan dan merupakan kebanggaan manusia Jawa. UU Sisdiknas juga merupakan gerilya yang luar biasa berhasilnya. Sekolah swasta berciri keagamaan non Islam dipaksa menyediakan guru beragama Islam, sehingga ciri mereka lenyap.
    – Demikian pula dengan perbankan, mereka ingin eksklusif dengan bank syariah, dengan menghindari kata bunga/rente/riba; istilah ke Arab2an pun diada-adakan, walau nampak kurang logis! Seperti USA memakai IMF, dan orang Yahudi menguasai finansial, maka manusia Arab ingin mendominasi Indonesia memakai strategi halal-haramnya pinjaman, misalnya lewat bank syariah.
    – Keberhasilan perempuan dalam menduduki jabatan tinggi di pegawai negeri (eselon 1 s/d 3) dikonotasikan/dipotretkan dengan penampilan berjilbab dan naik mobil yang baik. Para pejabat eselon ini lalu memberikan pengarahan untuk arabisasi pakaian dinas di kantor masing2.
    – Di hampir pelosok P. Jawa kita dapat menyaksikan bangunan2 masjid yang megah, dana pembangunan dari Arab luar biasa besarnya. Bahkan organisasi preman bentukan militer di jaman ORBA, yaitu Pemuda Pancasila, pun mendapatkan grojogan dana dari Timur Tengah untuk membangun pesantren2 di Kalimantan, luar biasa!
    – Fatwa MUI pada bulan Agustus 2005 tentang larangan2 yang tidak berdasar nalar dan tidak menjaga keharmonisan masyarakat sungguh menyakitkan manusia Jawa yang suka damai dan harmoni. Bila ulama hanya menjadi sekedar alat politik, maka panglima agama adalah ulama politikus yang mementingkan uang, kekuasaan dan jabatan saja; efek keputusan tidak mereka hiraukan. Sejarah ORBA membuktikan bahwa MUI dan ICMI adalah alat regim ORBA yang sangat canggih. Saat ini, MUI boleh dikata telah menjadi alat negara asing (Arab) untuk menguasai
    – Dimasa lalu, banyak orang cerdas mengatakan bahwa Wali Songo adalah bagaikan MUI sekarang ini, dakwah mereka penuh gerilya kebudayaan dan politik. Manusia Majapahit digerilya, sehingga terdesak ke Bromo (suku Tengger) dan pulau Bali. Mengingat negara baru memerangi KKN, mestinya fatwa MUI adalah tentang KKN (yang relevan), misal pejabat tinggi negara yang PNS yang mempunyai tabungan diatas 3 milyar rupiah diharuskan mengembalikan uang haram itu (sebab hasil KKN), namun karena memang ditujukan untuk membelokan pemberantasan KKN, yang terjadi justru sebaliknya, fatwanya justru yang aneh2 dan merusak keharmonisan kebhinekaan Indonesia!
    – Buku2 yang sulit diterima nalar, dan secara ngawur dan membabi buta ditulis hanya untuk melawan dominasi ilmuwan Barat saat ini membanjiri pasaran di Indonesia. Rupanya ilmuwan Timur Tengah ingin melawan ilmuwan Barat, semua teori Barat yang rasional-empiris dilawan dengan teori Timur Tengah yang berbasis intuisi-agamis (berbasis Al-Quran), misal teori kebutuhan Maslow yang sangat populer dilawankan teori kebutuhan spiritual Nabi Ibrahim, teori EQ ditandingi dengan ESQ, dst. Masyarakat Indonesia harus selalu siap dan waspada dalam memilih buku yang ingin dibacanya.
    – Dengan halus, licik tapi mengena, mass media, terutama TV dan radio, telah digunakan untuk membunuh karakater (character assasination) budaya Jawa dan meninggikan karakter budaya Arab (lewat agama)! Para gerilyawan juga menyelipkan filosofis yang amat sangat cerdik, yaitu: kebudayaan Arab itu bagian dari kebudayaan pribumi, kebudayaan Barat (dan Cina) itu kebudayaan asing; jadi harus ditentang karena tidak sesuai! Padahal kebudayaan Arab adalah sangat asing!
    – Gerilya yang cerdik dan rapi sekali adalah melalui peraturan negara seperti undang-undang, misalnya hukum Syariah yang mulai diterapkan di sementara daerah, U.U. SISDIKNAS, dan rencana UU Anti Pornografi dan Pornoaksi (yang sangat bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika dan sangat menjahati/menjaili kaum wanita dan pekerja seni). Menurut Gus Dur, RUU APP telah melanggar Undang-Undang Dasar 1945 karena tidak memberikan tempat terhadap perbedaan. Padahal, UUD 1945 telah memberi ruang seluas-luasnya bagi keragaman di Indonesia. RUU APP juga mengancam demokrasi bangsa yang mensyaratkan kedaulatan hukum dan perlakuan sama terhadap setiap warga negara di depan hukum. Gus Dur menolak RUU APP dan meminta pemerintah mengoptimalkan penegakan undang-undang lain yang telah mengakomodir pornografi dan pornoaksi. “Telah terjadi formalisasi dan arabisasi saat ini. Kalau sikap Nahdlatul Ulama sangat jelas bahwa untuk menjalankan syariat Islam tidak perlu negara Islam,” ungkapnya. (Kompas, 3 Maret 2006).

    – Puncak gerilya kebudayaan adalah tidak diberikannya tempat untuk kepercayaan asli, misalnya Kejawen, dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan urusan pernikahan/perceraian bagi kaum kepercayaan asli ditiadakan. Kejawen, harta warisan nenek moyang, yang kaya akan nilai: pluralisme, humanisme, harmoni, religius, anti kekerasan dan nasionalisme, ternyata tidak hanya digerilya, melainkan akan dibunuh dan dimatikan secara perlahan! Sungguh sangat disayangkan! Urusan perkawinan dan kematian untuk MJ penganut Kejawen dipersulit sedemikian rupa, urusan ini harus dikembalikan ke agama masing2! Sementara itu aliran setingkat Kejawen yang disebut Kong Hu Chu yang berasal dari RRC justru disyahkan keberadaannya. Sungguh sangat sadis para gerilyawan kebudayaan ini!
    – Gerilya kebudayaan juga telah mempengaruhi perilaku manusia Jawa, orang Jawa yang dahulu dikenal lemah-lembut, andap asor, cerdas, dan harmoni; namun sekarang sudah terbalik: suka kerusuhan dan kekerasan, suka menentang harmoni. Bayangkan saja, kota Solo yang dulu terkenal putri nya yang lemah lembut (putri Solo, lakune koyo macan luwe) digerilya menjadi kota yang suka kekerasan, ulama Arab (Basyir) mendirikan pesantren Ngruki untuk mencuci otak anak2 muda. Akhir2 ini kota Solo kesulitan mendatangkan turis manca negara, karena kota Solo sudah diidentikan dengan kekerasan sektarian. Untuk diketahui, di Pakistan, banyak madrasah disinyalir dijadikan tempat brain washing dan baiat. Banyak intelektual muda kita di universitas2 yang kena baiat (sumpah secara agama Islam, setelah di brain wahing) untuk mendirikan NII (negara Islam Indonesia) dengan cara menghalalkan segala cara. Berapa banyak madrasah/pesantren di Indonesia yang dijadikan tempat2 cuci otak anti pluralisme dan anti harmoni? Banyak! Berapa jam pelajaran dihabiskan untuk belajar agama (ngaji) dan bahasa Arab? Banyak, diperkirakan sampai hampir 50% nya! Tentu saja ini akan sangat mempengaruhi turunnya perilaku dan turunnya kualitas SDM bgs. Indonesia secara keseluruhan! Maraknya kerusuhan dan kekerasan di Indonesia bagaikan berbanding langsung dengan maraknya madrasah dan pesantren2. Berbagai fatwa MUI yang menjungkirbalikan harmoni dan gotong royong manusia Jawa gencar dilancarkan!

    – Sejarah membuktikan bagaimana kerajaan Majapahit, yang luarbiasa jaya, juga terdesak melalui gerilya kebudayaan Arab sehingga manusianya terpojok ke Gn. Bromo (suku Tengger) dan P. Bali (suku Bali). Mereka tetap menjaga kepercayaannya yaitu Hindu. Peranan wali Songo saat itu sebagai alat politis (mirip MUI dan ICMI saat ini) adalah besar sekali! Semenjak saat itu kemunduran kebudayaan Jawa sungguh luar biasa!
    Tanda-tanda Kemunduran Budaya Jawa
    Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah:
    – Orang2 hitam dari Afrika (yang budayanya dianggap lebih tertinggal) ternyata dengan mudah mempedayakan masyarakat kita dengan manipulasi penggandaan uang dan jual-beli narkoba.
    – Orang Barat mempedayakan kita dengan kurs nilai mata uang. Dengan $ 1 = k.l Rp. 10000, ini sama saja penjajahan baru. Mereka dapat bahan mentah hasil alam dari Indonesia murah sekali, setelah diproses di L.N menjadi barang hitech, maka harganya jadi selangit. Nilai tambah pemrosesan/produksi barang mentah menjadi barang jadi diambil mereka (disamping membuka lapangan kerja). Indonesia terus dengan mudah dikibulin dan dinina bobokan untuk menjadi negara peng export dan sekaligus pengimport terbesar didunia, sungguh suatu kebodohan yang maha luar biasa.
    – Orang Jepang terus membuat kita tidak pernah bisa bikin mobil sendiri, walau industri Jepang sudah lebih 30 tahun ada di Indonesia. Semestinya bangsa ini mampu mendikte Jepang dan negara lain untuk mendirikan pabrik di Indonesia, misalnya pabrik: Honda di Sumatra, Suzuki di Jawa, Yamaha di Sulawesi, dst. Ternyata kita sekedar menjadi bangsa konsumen dan perakit.
    – Orang Timur Tengah/Arab dengan mudah menggerilya kebudayaan kita seperti cerita diatas; disamping itu, Indonesia adalah termasuk pemasok devisa haji terbesar! Kemudian, dengan hanya Asahari, Abu Bakar Baasyir dan Habib Riziq (FPI), cukup beberapa gelintir manusia saja, Indonesia sudah dapat dibuat kalang kabut oleh negara asing! Sungguh keterlaluan dan memalukan!
    – Kalau dulu banyak mahasiswa Malaysia studi ke Indonesia, sekarang posisinya terbalik: banyak mahasiswa Indonesia belajar ke Malaysia (bahkan ke S’pore, Thailand, Pilipina, dst.). Konyol bukan?
    – Banyak manusia Jawa yang ingin kaya secara instant, misalnya mengikuti berbagai arisan/multi level marketing seperti pohon emas, dst., yang tidak masuk akal!
    – Dalam beragamapun terkesan jauh dari nalar, bijak dan jauh dari cerdas, terkesan hanya ikut2an saja. Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama, dan tidak perlu mengorbankan budaya lokal.
    – Sampai dengan saat ini, Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari berbagai krisis (krisis multi dimensi), kemiskinan dan pengangguran justru semakin meningkat, padahal negara tetangga yang sama2 mengalami krisis sudah kembali sehat walafiat! Peran manusia Jawa berserta kebudayaannya, sebagai mayoritas, sangat dominan dalam berbagai krisis yang dialami bangsa ini.

    Penutup

    Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama. Gus Dur mensinyalir telah terjadi arabisasi kebudayaan. Kepentingan negara asing untuk menguasai bumi dan alam Indonesia yang kaya raya dan indah sekali sungguh riil dan kuat sekali, kalau negara modern memakai teknologi tinggi dan jasa keuangan, sedangkan negara lain memakai politisasi agama beserta kebudayaannya. Indonesia saat ini (2007) adalah sedang menjadi ajang pertempuran antara dua ideologi besar dunia: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. CLASH OF CIVILIZATION antar dua ideologi besar di dunia ini, yang sudah diramalkan oleh sejarahwan kelas dunia – Samuel Hutington dan Francis Fukuyama.

    Tanpa harus menirukan/menjiplak kebudayaan Arab, Indonesia diperkirakan dapat menjadi pusat Islam (center of excellence) yang modern bagi dunia. Seperti pusat agama Kristen modern, yang tidak lagi di Israel, melainkan di Itali dan Amerika. Beragama tanpa nalar disertai menjiplak budaya asal agama tersebut secara membabi buta hanya akan mengakibatkan kemunduran budaya lokal sendiri! Maka bijaksana, kritis, dan cerdik sangat diperlukan dalam beragama.

  • untuk hatinurani21:

    Sebenarnya manusia Jawa itu yang mana? Terus kebudayaan Jawa yang sebenarnya itu seperti apa? Kalau yang dimaksud itu orang-orang Jawa yang berkebudayaan Hindu-Budha, barangkali anda tidak memahami perjalanan dan sejarah perkembangan suatu bangsa. Atau apakah paham ataupun pemikiran2 ke-jawa-an yang kemudian dikenal dengan kejawen itu bisa dijamin sebagai produk asli Jawa?

    Sebaiknya kalau memang ingin memajukan budaya suatu bangsa adalah memulainya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kejatidirian bangsa ini dulu sebelum merasa memiliki kebanggaan atau kelebihan dari bangsa lain lalu setelah itu menyalah-nyalahkan orang atau bangsa lain. Bangsa ini butuh orang-orang yang berkarya, bukan cuma kritik dan provokasi saja.

    Kebenaran atau kesejatian itu adalah semata-mata hanyalah kebenaran, entah dari mana pun itu berasal. Apakah seorang manusia itu mampu mengejewantahkan kesejatiannya atau melahirkan suatu karya yang agung tanpa dia melakukan interaksi dengan orang lain? Kalau demikian saya khawatir yang anda manusia Jawa itu saat ini kebudayaannya akan masih seperti jaman Pithecantropus Erectus yang ada di Sangiran itu.

    Kebudayaan dan peradaban terus berkembang. Bahwa kemudian muncul kebudayaan tinggi di suatu bangsa yang diakui oleh bangsa-bangsa lain, itu adalah suatu proses yang panjang hasil kerja keras dari bangsa itu sendiri dengan pengaruh dan bahkan tantangan-tantangan dari budaya atau peradaban bangsa lain.

    Bahwa beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama saya setuju sekali, karena agama bukan sekedar budaya dari suatu bangsa (nggak tau ya kalau ada yang agamanya seperti suatu budaya saja). Bijaksana dan kritis dalam beragama tentu sangat diperlukan, tapi saya masih belum paham dengan cerdik dalam beragama spt yang anda maksud. Jangan-jangan agama yang anda maksud hanya sebuah alat saja untuk menyalurkan keinginan-keinginan orang tertentu saja.

  • Artikel ini menarik sekali. Ini situsnya: http://religi.wordpress.com/2007/03/16/agama-langit-dan-agama-bumi/

    AGAMA LANGIT DAN AGAMA BUMI

    Ada berbagai cara menggolongkan agama-agama dunia. Ernst Trults seorang teolog Kristen menggolongkan agama-agama secara vertikal: pada lapisan paling bawah adalah agama-agama suku, pada lapisan kedua adalah agama hukum seperti agama Yahudi dan Islam; pada lapisan ketiga, paling atas adalah agama-agama pembebasan, yaitu Hindu, Buddha dan karena Ernst Trults adalah seorang Kristen, maka agama Kristen adalah puncak dari agama-agama pembebasan ini.

    Ram Swarup, seorang intelektual Hindu dalam bukunya; “Hindu View of Christianity and Islam” menggolongkan agama menjadi agama-agama kenabian (Yahudi, Kristen dan Islam) dan agama-agama spiritualitas Yoga (Hindu dan Buddha) dan mengatakan bahwa agama-agama kenabian bersifat legal dan dogmatik dan dangkal secara spiritual, penuh klaim kebenaran dan yang membawa konflik sepanjang sejarah. Sebaliknya agama-agama Spiritualitas Yoga kaya dan dalam secara spiritualitas dan membawa kedamaian.

    Ada yang menggolongkan agama-agama berdasarkan wilayah dimana agama-agama itu lahir, seperti agama Semitik atau rumpun Yahudi sekarang disebut juga Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama-agama Timur (Hindu, Buddha, Jain, Sikh, Tao, Kong Hu Cu, Sinto).

    Ada pula yang menggolongkan agama sebagai agama langit (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama bumi (Hindu, Buddha, dll.) Penggolongan ini paling disukai oleh orang-orang Kristen dan Islam, karena secara implisit mengandung makna tinggi rendah, yang satu datang dari langit, agama wahyu, buatan Tuhan, yang lain lahir di bumi, buatan manusia. Penggolongan ini akan dibahas secara singkat di bawah ini.

    Agama bumi dan agama langit.

    Dr. H.M. Rasjidi, dalam bab Ketiga bukunya “Empat Kuliyah Agama Islam Untuk Perguruan tinggi” membagi agama-agama ke dalam dua kategori besar, yaitu agama-agama alamiah dan agama-agama samawi. Agama alamiah adalah agama budaya, agama buatan manusia. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Hindu dan Budha. Mengenai agama Hindu Rasjidi mengutip seorang teolog Kristen, Dr. Harun Hadiwiyono, Rektor Sekolah Tinggi Theologia “Duta Wacana” di Yogyakarta sebagai berikut:

    “Sebenarnya agama Hindu itu bukan agama dalam arti yang biasa. Agama Hindu sebenarnya adalah satu bidang keagamaan dan kebudayaan, yang meliputi jaman sejak kira-kira 1500 S.M hingga jaman sekarang. Dalam perjalanannya sepanjang abad-abad itu, agama Hindu berkembang sambil berobah dan terbagi-bagi, sehingga agama ini memiliki ciri yang bermacam-macam, yang oleh penganutnya kadang-kadang diutamakan, tetapi kadang-kadang tidak diindahkan sama sekali. Berhubung karena itu maka Govinda Das mengatakan bahwa agama Hindu itu sesungguhnya adalah satu proses antropologis, yang hanya karena nasib baik yang ironis saja diberi nama agama.” 1)

    Samawi artinya langit. Agama samawi adalah agama yang berasal dari Tuhan (yang duduk di kursinya di langit ketujuh, Sky god, kata Gore Vidal). Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Dalam bab Keempat dengan judul “Agama Islam adalah Agama Samawi Terakhir” Rasjidi dengan jelas menunjukkan atau menempatkan Islam sebagai puncak dari agama langit. Hal ini dapat dipahami karena Rasjidi bukan saja seorang guru besar tentang Islam, tetapi juga seorang Muslim yang saleh.

    Bahkan dengan doktrin mansukh, pembatalan, para teolog dan ahli fikih Islam mengklaim, Qur’an sebagai wahyu terakhir telah membatalkan kitab-kitab suci agama-agama sebelumnya (Torah dan Injil).

    Bila Tuhan yang diyakini oleh ketiga agama bersaudara ini adalah satu dan sama, pandangan para teolog Islam adalah logis. Tetapi disini timbul pertanyaan, apakah Tuhan menulis bukunya seperti seorang mahasiswa menulis thesis? Sedikit demi sedikit sesuai dengan informasi yang dikumpulkannya, melalui percobaan dan kesalahan, perbaikan, penambahan pengurangan, buku itu disusun dan disempurnakan secara perlahan-lahan?

    Tetapi ketiga agama ini tidak memuja Tuhan yang satu dan sama. Masing-masing Tuhan ketiga agama ini memiliki asal-usul yang berbeda dan karakter yang berbeda. Yahweh berasal dan ajudan dewa perang, yang kemungkinan berasal dari suku Midian, dan dijadikan satu-satunya Tuhan orang Israel oleh Musa. Jesus salah seorang dari Trinitas, adalah seorang pembaharu agama Yahudi yang diangkat menjadi Tuhan oleh para pendiri Kristen awal. Allah adalah dewa hujan yang setelah digabung dengan dewa-dewa lain orang Arab dijadikan satu-satunya tuhan orang Islam oleh Muhammad. Jadi Yahweh, Trinitas dan Allah adalah tuhan-tuhan yang dibuat manusia. 2) (Lihat Karen Amstrong: A History of God).

    Dan karakter dari masing-masing Tuhan itu sangat berbeda. Ketiganya memang Tuhan pencemburu, tetapi tingkat cemburu mereka berbeda. Yahweh adalah Tuhan pencemburu keras, gampang marah, dan suka menghukumi pengikutnya dengan kejam, tetapi juga suka ikut berperang bersama pengikutnya melawan orang-orang lain, seperti orang Mesir, Philistin dan Canaan. Jesus juga Tuhan pencemburu, tapi berpribadi lembut, ia memiliki banyak rasa kasih, tetapi juga mempunyai neraka yang kejam bagi orang-orang yang tidak percaya padanya. Allah lebih dekat karakternya dengan Yahweh, tetapi bila Yahweh tidak memiliki neraka yang kejam, Allah memilikinya. Di samping itu, bila Yahweh menganggap orang-orang Yahudi sebagai bangsa pilihannya, Allah menganggap orang-orang Yahudi adalah musuh yang paling dibencinya.

    Jadi jelaslah di langit-langit suci agama-agama rumpun Yahudi ini terdapat lima oknum Tuhan yang berbeda-beda, yaitu Yahweh, Trinitas (Roh Kudus, Allah Bapa dan Tuhan Anak atau Jesus) dan Allah Islam. Masing-masing dengan ribuan malaikat dan jinnya.

    Pengakuan terhadap Tuhan yang berbeda-beda tampaknya bisa menyelesaikan masalah soal pembatalan kitab-kitab atau agama-agama sebelumnya oleh agama-agama kemudian atau agama terakhir. Masing-masing Tuhan ini memang menurunkan wahyu yang berbeda, yang hanya berlaku bagi para pengikutnya saja. Satu ajaran atau satu kitab suci tidak perlu membatalkan kitab suci yang lain.

    Tetapi disini timbul masalah lagi. Bagaimana kedudukan bagian-bagian dari Perjanjian Lama yang diterima atau diambil oleh Perjanjian Baru? Bagaimana kedudukan bagian-bagian Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang terdapat di dalam Al-Qur’an? Apakah bagian-bagian itu dipinjam dari Tuhan yang satu oleh Tuhan yang lain, yang ada belakangan? Atau persamaan itu hanya kebetulan? Ataukah para penulis kitab-kitab yang belakangan meminjamnya dari penulis kitab-kitab terdahulu?

    Pembagian agama menjadi agama bumi dan agama langit, dari sudut pandang Hindu sebenarnya tidak menjadi masalah. Ini terkait dengan konsep ketuhanan dari masing-masing agama. Agama-agama Abrahamik atau Rumpun Yahudi (nama yang lebih tepat daripada “agama langit”) memandang Tuhan sebagai sosok berpribadi, seperti manusia, yang berdiam di langit (ke tujuh) duduk di atas kursinya, yang dipikul oleh para malaikat. Dari kursinya di langit itu Dia melakukan segala urusan, termasuk antara lain, tetapi tidak terbatas pada, mengatur terbit dan tenggelannya matahari, “menurunkan” wahyu dan lain sebagainya. Dari segi ini benarlah sebutan “agama langit” itu, karena ajarannya diturunkan oleh Tuhannya yang bermukim nun jauh di langit.

    Dalam pandangan agama Hindu, Tuhan bersifat panteistik, yang melingkupi ciptaan (imanen) dan sekaligus di luar ciptaannya (transenden). Menurut pandangan Hindu Tuhan tidak saja lebih besar dari ciptaannya, tetapi juga dekat dengan ciptaannya. Kalau Tuhan hanya ada di satu tempat di langit ketujuh, berarti Ia ada di satu noktah kecil di dalam ciptaannya. Oleh karena itu Dia tidak Mahabesar. Agak mirip dengan pengertian ini, di dalam agama Hindu, dikenal ajaran tentang Avatara, yaitu Tuhan yang menjelma menjadi mahluk, yang lahir dan hidup di bumi – seperti Rama dan Krishna – menyampaikan ajarannya di bumi langsung kepada manusia tanpa perantara.

    Dari segi ini, dikotomi agama langit dan agama bumi tidak ada masalah. Baru menjadi masalah ketika “truth claim” yang menyertai dikotomi ini. Bahwa agama langit lebih tinggi kedudukannya dari agama bumi; karena agama-agama langit sepenuhnya merupakan bikinan Tuhan, yang tentu saja lebih mulia, lebih benar dari agama-agama bumi yang hanya buatan manusia dan bahwa oleh karenanya kebenaran dan keselamatan hanya ada pada mereka. Sedangkan agama-agama lain di luar mereka adalah palsu dan sesat.

    Pandangan “supremasis” ini membawa serta sikap “triumpalis”, yaitu bahwa agama-agama yang memonopoli kebenaran Tuhan ini harus menjadikan setiap orang sebagai pengikutnya, menjadikan agamanya satu-satunya agama bagi seluruh umat manusia, dengan cara apapun. Di masa lalu “cara apapun” itu berarti kekerasan, perang, penaklukkan, penjarahan, pemerkosaan dan perbudakan atas nama agama.

    Masalah wahyu

    Apakah wahyu? Wahyu adalah kata-kata Tuhan yang disampaikan kepada umat manusia melalui perantara yang disebut nabi, rasul, prophet. Bagaimana proses penyampaian itu? Bisa disampaikan secara langsung, Tuhan langsung berbicara kepada para perantara itu, atau satu perantara lain, seorang malaikat menyampaikan kepada para nabi; atau melalui inspirasi kepada para penulis kitab suci. Demikian pendapat para pengikut agama-agama rumpun Yahudi.

    Benarkah kitab-kitab agama Yahudi, Kristen dan Islam, sepenuhnya merupakan wahyu Tuhan? Bila benar bahwa kitab-kitab ini sepenuhnya wahyu Tuhan, karena Tuhan Maha Tahu dan Maha Sempurna, maka kitab-kitab ini sepenuhnya sempurna bebas dari kesalahan sekecil apapun. Tetapi Studi kritis terhadap kitab-kitab suci agama-agama Abrahamik menemukan berbagai kesalahan, baik mengenai fakta yang diungkapkan, yang kemudian disebut ilmu pengetahun maupun tata bahasa. Berikut adalah beberapa contoh.

    Pertama, kesalahan mengenai fakta.

    Kitab-suci kitab-suci agama ini, menyatakan bumi ini datar seperti tikar, dan tidak stabil. Supaya bumi tidak goyang atau pergi ke sana kemari, Tuhan memasang tujuh gunung sebagai pasak. Kenyataannya bumi ini bulat seperti bola. Dan sekalipun ada banyak gunung, lebih dari tujuh, bumi tetap saja bergoyang, karena gempat.

    Kedua, kontradiksi-kontradiksi.

    Banyak terdapat kontradiksi-kontradiksi intra maupun antar kitab suci-kitab suci agama-agama ini. Satu contoh tentang anak Abraham yang dikorbankan sebagai bukti ketaatannya kepada Tuhan (Yahweh atau Allah). Bible mengatakan yang hendak dikorbankan adalah Isak, anak Abraham dengan Sarah, istrinya yang sesama Yahudi. Sedangkan Qur’an mengatakan bukan Isak, tetapi Ismail, anak Ibrahamin dengan Hagar, budak Ibrahim yang asal Mesir

    Contoh lain. Bible menganggap Jesus sebagai Tuhan (Putra), sedangkan Al-Qur’an menganggap Jesus (Isa) hanya sebagai nabi, dan bukan pula nabi terakhir yang menyempurnakan wahyu Tuhan.

    Ketiga, kesalahan struktur kalimat atau tata bahasa.

    Di dalam kitab-kitab suci ini terdapat doa-doa, kisah-kisah, berita-berita tentang kegiatan Tuhan, mirip seperti berita surat kabar, yang ditulis oleh seseorang (wartawan) atas seseorang yang lain (dari obyek berita, dalam hal ini Tuhan). Lalu ada kalimat yang merujuk Tuhan sebagai “Aku, Kami, Dia, atau nama-namanya sendiri, seperti Allah, Yahweh, dll”. Mengapa Tuhan menunjukkan diriNya dengan Dia, kata ganti ketiga? Kata-kata atau kalimat-kalimat pejoratif seperti Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui ini pastilah dibuat oleh manusia, sebab mustahil rasanya Tuhan memuji-muji dirinya sendiri.

    Keempat, ajaran tentang kekerasan dan kebencian.

    Di dalam kitab-suci kitab-suci agama-agama langit ini banyak terdapat ajaran-ajaran tentang kebencian terhadap komunitas lain, baik karena kebangsaan maupun keyakinan. Di dalam Perjanjian Lama terdapat kebencian terhadap orang Mesir, Philistin, Canaan dll. Di dalam Perjanjian Baru terdapat ajaran kebencian terhadap orang Yahudi dan Roma. Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat kebencian terhadap orang-orang Yahudi, Kristen dan pemeluk agama-agama lain yang dicap kafir secara sepihak. Pertanyaan atas soal ini, betulkah Tuhan menurunkan wahyu kebencian terhadap sekelompok orang yang memujanya dengan cara berbeda-beda, yang mungkin sama baiknya atau bahkan lebih baik secara spiritual? Bukankah akhirnya ajaran-ajaran kebencian ini menjadi sumber kekerasan sepanjang massa?

    Bagaimana mungkin Tuhan yang Maha Bijaksana, Maha Pengasih dan Penyayang menurunkan wahyu kebencian dan kekerasan semacam itu? Di dalam agama Hindu kebencian dan kekerasan adalah sifat-sifat para raksasa, asura dan daitya (demon, devil, atau syaitan).

    Di samping hal-hal tersebut di atas, agama-agama rumpun Yahudi banyak meminjam dogma dari agama-agama lain, bahkan dari komunitas yang mereka sebut penyembah berhala atau kafir. Dogma utama mereka tentang eskatologi seperti hari kiamat, kebangkitan tubuh dan pengadilan terakhir dipinjam oleh agama Yahudi dari agama Zoroaster Persia, lalu diteruskan kepada agama Kristen dan Islam. Legenda tentang penciptaan Adam dipinjam dari leganda tentang penciptaan Promotheus dalam agama Yunani kuno. Bagaimana mungkin tuhan agama langit meminjam ajaran dari agama-agama atau tradisi buatan manusia?

    Swami Dayananda Saraswati (1824-1883), pendiri Arya Samaj, sebuah gerakan pembaruan Hindu, dalam bukunya Satyarth Prakash (Cahaya Kebenaran) membahas Al Kitab dan AI-Qur’an masing-masing di dalam bab XI II dan XIV, dan sampai kepada kesimpulan yang negatif mengenai kedua kitab suci ini. Bahwa kedua kitab suci ini mengandung hal-hal yang patut dikutuk karena mengajarkan kekerasan, ketahyulan dan kesalahan. Ia meningkatkan penderitaan ras manusia dengan membuat manusia menjadi binatang buas, dan mengganggu kedamaian dunia dengan mempropagandakan perang dan dengan menanam bibit perselisihan.

    Apa yang dilakukan oleh Swami Dayananda Saraswati adalah kounter kritik terhadap agama lain atas penghinaan terhadap Hindu yang dilakukan sejak berabad-abad sebelumnya oleh para teolog dan penyebar agama lainnya.

    Kesimpulan.

    Tidak ada kriteria yang disepakati bersama di dalam penggolongan agama-agama. Setiap orang membuat kriterianya sendiri secara semena-mena untuk tujuan meninggikan agamanya dan merendahkan agama orang lain. Hal ini sangat kentara di dalam agama-agama missi yang agresif seperti Kristen dan Islam dimana segala sesuatu dimaksudkan sebagai senjata psikologis bagi upaya-upaya konversi dan proselitasi mereka.

    Di samping itu tidak ada saksi dan bukti untuk memverifikasi dan memfalsifikasi apakah isi suatu kitab suci betul-betul wahyu dari Tuhan atau bukan? Yang dapat dikaji secara obyektif adalah isi atau ajaran yang dikandung kitab suci-kitab suci itu apakah ia sesuai dengan dan mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan, seperti cinta kasih, kesetiaan, ketabahan, rajin bekerja, kejujuran, kebaikan hati atau mengajarkan kebencian dan kekerasan?

    Penggolongan agama-agama menjadi agama langit dan agama bumi, jelas menunjukkan sikap arogansi, sikap merendahkan pihak lain, dan bahkan sikap kebencian yang akhirnya menimbulkan kekerasan bagi pihak yang dipandangnya sesat, menjijikan dan tidak bernilai. Di lain pihak penggolongan ini menimbulkan rasa tersinggung, kemarahan, dan akhirnya kebencian. Bila kebencian bertemu kebencian, hasilnya adalah kekerasan.

    Melihat berbagai cacat dari kitab suci-kitab suci mereka, khususnya ajarannya yang penuh kebencian dan kekerasan, maka isi kitab suci itu tidak datang dari Tuhan, tetapi dari manusia yang belum tercerahkan, apalagi Tuhan-Tuhan mereka adalah buatan manusia.

    Berdasarkan hal-hal tersebut di atas disarankan agar dikotomi agama langit dan agama bumi ini tidak dipergunakan di dalam baik buku pelajaran, wacana keagamaan maupun ilmiah. Dianjurkan agar dipergunakan istilah yang lebih netral, yaitu agama Abrahamik dan agama Timur.

    (Ngakan Putu Putra sebagaian bahan dari SATS ; “Semua Agama Tidak Sama” ).

    Catatan kaki:
    I). Prof . DR. H.M. Rasjidi : “Empat Kuliyah Agama Islam pada Perguruan Tinggi” penerbit Bulan Bintang, Jakarta, cetakan pertama, 1974. hal 10) H.M Rasjidi hal 53
    2). Lihat Kare n Amstrong : A History of God
    3). Swami Dayananda Saraswati Satyarth Prakash (Light of Truth), hal 648.
    4). Ibid hal 720.

  • Perhatian:

    setelah dicek sumber-sumbernya, hatinurani21 yang menulis komen di atas adalah orang yang sama dengan Zorion Annas, B. Ali, sejati, nurani, Ridwan Azari, Ramli Rais dan Saleh Aziz. Juga resist dan zulkifli bin taha (zbtaha).

    gak usah ditanggapi lah komen dan tulisan ngawurnya.

  • Haha… si Zorion Annas ternyata nongol disini juga tho 😀

    Gak usah pusing, hapus saja mas. Di blog saya kerjaannya cuma bikin keributan — gara2 komentar dia yang ngawur (dan RASIS!) jadi banyak yang naik darah dan emosi.

    Lha nambah kerjaan yang gak ada gunanya, memangnya saya pengangguran? Akhirnya saya hapus saja komentar-komentarnya.

    btw; well done untuk risetnya terhadap hadits ini, terimakasih. Mudah-mudahan makin banyak umat Islam yang mau kritis dan mencari tahu lebih banyak mengenai agamanya sendiri …. 🙂

  • iya tuh. komennya semua ngawur, rasis, tendensius.. kalau saya muat semua bisa ribut blog ini… ada masalah rasulullah yang pedophil, agama langit agama ngawur, sukuisme, dan lain-lain…

    yah muat sekedar supaya blogger lain tau dan ngerti permasalahan saja…

    Makasih mas sufehmi 🙂

  • Rekan, kawan dan sahabat silakan baca buku yang agak tebal judulnya Al Bidayah Wa Nihayah…disana jelas sekali sejarah para sahabat Nabi yang utama (4 khalifah) dan lihat dengan teliti bahwa beliau-beliau dari Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali radhiallahu anhu….semua berisitri lebih dari satu.

  • ilham d sannang

    Herry adalah teman dan sahabat saya.
    saya memiliki banyak kesamaan pendapat dengan Herry, kecuali dalam tulisan ini.

    [Herry]: “Rasulullah melarang Ali menikah lagi ketika masih beristri Fathimah ra adalah karena Ali hendak melamar putri Abu Jahal, bukan karena semata-mata kecemburuan dan tidak ingin Fathimah, putri beliau, ‘terluka’. ”

    Bagaimana kalau ini kita konfrontasikan dengan Nabi sendiri, yang mengawini Ummu Habibah puteri Abu Sufyan?
    Kita tahu bahwa Abu Sufyan adalah sekutu Abu Jahal, yakni sama-sama tokoh Quraisy yang memerangi Nabi.

    Nabi menikahi Ummu Habibah binti Sufyan, ketika Umm Habibah berhijrah ke Ethiopia. wali nikah mereka adalah Negus, Raja Ethiopia. Jadi, ketika Nabi menikahi putri Abu Sufyan ini, Nabi masih dalam suasana permusuhan dengan Abu Sufyan. Jadi, ini justru mementahkan argumen Herry di atas, bahwa alasan larangan Fatimah dipoligami adalah karena yang ingin dinikahi adalah putri Abu Jahal. Padahal, Nabi sendiri menikahi puteri seorang musuh Allah.

    Lalu, bagaimana dong penjelasannya?
    Sejauh ini, penjelasan yang paling memuaskan saya adalah, suatu informasi yang pernah saya baca di suatu buku, yakni bahwa poligami itu hanya dibolehkan jika si istri pertama berasal dari kaum yang biasa melakukan poligami, sehingga tidak dikuatirkan sakit hatinya. Jika poligami sudah merupakan praktik umum di suatu budaya masyarakat tertentu dari mana si istri pertama berasal, maka si suami boleh melakukannya.

    namun, jika si istri berasal dari budaya yang tidak berpoligami, maka sebaiknya suami yang arif tidak melakukannya.
    saya pikir, Khadijah dan Fatimah adalah wanita yang teramat sensitif, sehingga tidak pernah dipoligami. Menjadi kewajiban suami untuk melindungi perasaan sensitif istrinya ini. Berbeda dengan Aisyah, dan istri2 lain nabi. walaupun mereka semua “terluka” karena dipoligami (dan sering terjadi perselisihan juga antar istri2 nabi), namun “daya tahan” mereka rupanya lebih baik, sehingga dipoligami juga.

    ada juga yang menyatakan bahwa, kualitas Khadijah sedemikian istimewanya, sehingga Nabi tidak memerlukan istri yang lain lagi. sepeninggal Khadijah, tiada yang dapat menggantikannya, sehingga satu istri pun tidak cukup.

    Allahu a’lam.

  • Assalaamu’alaikum.

    Saya sangat setuju dengan poligami.

    Saya mempunyai seorang teman yang sudah mempunyai seorang istri + 2 anak. Dia mau tidur seranjang dengan gadis yang berumur 9 tahun. Gadis ini adalah anak dari seorang teman akrabnya. Teman saya ini mau mencontohi Nabi Muhammad SAW.

    Teman saya ini mengetahui bahwa gadis tsb bukan milik ayahnya, melainkan milik Alloh.

    Pertanyaan saya: Berhakkah si Ayah menolak permintaan teman saya ini? Apakah si ayah akan masuk neraka karena menolak ajaran Nabi Muhammad SAW?

    Terima kasih atas pertolongannya untuk menjawab pertanyaan ini.

  • jangan ..jangan solihin ini konconya atau hasil mutasi dari hatinurani21 yang menulis komen di atas adalah orang yang sama dengan Zorion Annas, B. Ali, sejati, nurani, Ridwan Azari, Ramli Rais dan Saleh Aziz.
    gak usah ditanggapi lah komen dan tulisan ngawurnya.

  • jangan jangan solihin sama atau mutasi dari konchatinurani21 yang menulis komen di atas adalah orang yang sama dengan Zorion Annas, B. Ali, sejati, nurani, Ridwan Azari, Ramli Rais dan Saleh Aziz.
    gak usah ditanggapi lah komen dan tulisan ngawurnya.

    👿

Comments are closed.

Site Footer