KETIKA Nabi Musa as diperintahkan Allah SWT untuk membawa bani Israil ke tepi laut apakah ia sudah mengetahui bahwa Allah SWT akan membukakan laut bagi mereka ? Tidak sama sekali. Ia hanya meyakini bahwa di tempat itu Allah SWT akan menurunkan pertolongannya, tanpa diketahui apa bentuknya.
A disciple said, "All masters say that spiritual treasure is discovered through solitary search. So, then, why are we all together here?"
Nyaris semua manusia begitu berhadapan dengan persoalan, penderitaan langsung bereaksi mau menyingkirkannya. Bosan lalu cari makan. Jenuh kemudian cari hiburan. Sakit lalu buru-buru mau melenyapkannya dengan obat. Inilah bentuk nyata dari hidup yang melawan sehingga berlaku rumus sejumlah psikolog what you resist persist. Apa saja yang dilawan akan bertahan. Ini yang menerangkan mengapa sejumlah kehidupan tidak pernah keluar dari terowongan kegelapan karena terus melawan.
PERNAH pada suatu ketika, ada seorang penjahat kejam yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Suatu hari, dia mendatangi seorang guru agama dan mengatakan bahwa dia ingin mengubah hidupnya, sebagai taubat atas segala kesalahannya. Guru itu menjawab bahwa ia sudah tidak mungkin lagi diampuni karena dosanya sudah ‘keterlaluan’. Dengan sangat marah penjahat itu mengatakan, kalau memang dosanya tidak bisa diampuni, ia sekalian saja membunuh guru itu. Dan ditebasnyalah leher guru agama itu.
Ketika itu saya dibuat merenung, waktu menyadari bahwa kata “Islam” bermakna keberserahdirian, berasal dari kata “aslama” yang bermakna ‘“berserah diri’” atau ‘“sepenuhnya tunduk’.”. Kata ini bukan berfungsi sebagai identifikator untuk membedakannya dengan agama lain—agama itu tidak dinamai Diinul-Muhammadi, Muhammadian atau Muhammadanisme. Kata ini, yang saya yakini sungguh dalam maknanya, ternyata berfungsi untuk menerangkan jati diri agama yang dinamainya itu.

Site Footer